Heechul sangat mencintai Hankyung. Seakan dunia tidak akan sempurna bila Hankyung tidak di sisinya. Namun, setelah Hankyung pergi ke kampung halamannya, Heechul bermain di belakang Hankyung. Tapi, setiap kali diingatkan, Heechul selalu menjawab bahwa ini bukan salahnya. Sebenarnya apa yang terjadi?

Please enjoy~
Our colaboration fict for HanChul~

.

A Super Junior Fanfiction

Distance (Chapter 1)

HanChul – SiChul – SiBum

.

Warning! May M for Sex! Boys Love! Switch gender! Not good for children under-age! Typo(s)! And so on …
I’ve warn you, ok?

.

created by Park Minnie and SJ Little Fish!

.

~ Happy Reading ~

.

.

###

Di sebuah kamar hotel bertuliskan 102 di pintunya, terdengar decit kaki kasur yang beradu dengan lantai marmer. Suara benturan kulit dan erangan kenikmatan mengalun membangkitkan gairah siapa saja yang mendengar. Lampu remang yang terpasang menambah gejolak nafsu bagi dua insan yang saling menyatu.

“Ahh … Sihh … hhh,” kira-kira seperti itu erangan yang dikeluarkan pemuda cantik yang berada di bawah dan bagian selatannya dimasuki oleh pemuda lain yang bertubuh atletis.

“Hhh …, so tight … Hee … hhh …,” dan pemuda itu membalasnya dengan erangan kenikmatan.

Decitan kaki kasur dan lantai itu semakin menggebu, seirama dengan dorongan cepat dan kasar pemuda yang berada di atas itu. Mencari titik nikmat bagi keduanya. Terus begitu sampai sebuah erangan panjang dari bibir keduanya, sebuah puncak yang tak bisa dilukiskan. Betapa mereka menikmati saat ini.

“Siwon, jangan menimpaku. Kau berat,” pemuda cantik itu mencoba untuk menggeser tubuh Siwon dari atasnya.

Siwon tersenyum tipis dan segera memindahkan tubuhnya ke samping. Memeluk tubuh pemuda cantik ini dan mencium aroma rambutnya. Walau sekarang aroma melon tadi berganti dengan aroma seks yang pekat.

“Hhh …, saranghae Heechul,” bisik Siwon tepat di samping telinga Heechul, pemuda cantik tadi.

Lama Heechul membatu, dan hanya deheman yang keluar dari bibir seksinya. Membuat Siwon harus tersenyum pahit menghadapi kenyataan.

Heechul tidak akan pernah bisa membalas perasaannya.

.

_HanChul_

.

Kim Heechul. Seorang pemuda yang memiliki kecantikan melebihi seorang wanita sesungguhnya. Tubuh ramping dan tinggi, berkulit putih bersih walau jarang dirawat. Rambut cokelat bergelombang melewati bahu, sepasang mata kucing dengan iris cokelat –sewarna dengan rambutnya, hidung mancung, bibir penuh dan berlesung pipi dalam. Bukankah itu sebuah kecantikan sempurna? Tapi sayangnya kecantikan yang ditujukan untuk wanita ini ia ambil sehingga membuat pesona seorang Kim Heechul sangat mengagumkan.

Jika kita telusuri sejarah keluarganya, juga sempurna –tanpa cela. Anda juga pasti akan mengangguk dengan statement ini. Ayahnya seorang pebisnis, ibunya seorang diplomat, dan mempunyai adik yang sedang menuntut ilmu di negara Eropa sana. Heechul juga sering diberitakan menjadi direktur selanjutnya di perusahaan keluarganya, namun ia sering menampik hal itu.

Dan jika Anda mengetahui keseharian Heechul, Anda juga akan mengira bahwa Heechul bukanlah manusia biasa. Dia jenius sains namun lebih memilih sastra –sekarang ia belajar di Seoul University major in English. Selalu menjadi yang nomor satu dibidang akademik –terhitung dari mulai sekolah. Bukankah ia terlalu sempurna untuk dikatakan seorang manusia biasa?

Tapi, pepatah yang mengatakan bahwa ‘Tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini selain yang Kuasa,’ itu benar. Sesempurnanya Heechul dimata orang banyak, namun Kim Heechul tetaplah seorang anak Adam yang bisa melakukan kesalahan.

Anak pertama dari keluarga Kim itu adalah ‘pecinta sesama jenis’. Walau mungkin di antara kita sudah bisa menerimanya, tapi di negri yang menjunjung moral dan etika seperti Korea, hal tersebut sangat tabu. Tapi bukan Kim Heechul namanya jika tidak bisa menangani hal itu.

Karena kecantikannya, ia menjadi primadona atau sang Ratu dimana pun ia berada. Tak jarang banyak lelaki yang juga ‘menyimpang’ atau pun yang masih ‘lurus’ meliriknya dan memintanya untuk menjadi kekasih. Tapi selalu ia tolak. Namun begitu, sering kali ia kedapatan menatap seorang pria lain dengan mata kucing yang menggoda itu. Tidak heran, sahabat dekatnya menambahkan rubah betina pada nickname pria cantik ini.

.

_HanChul_

.

“Yo, Heechul~” suara lembut dan tepukan pelan di bahu Heechul membuat pemuda cantik ini menoleh. Sesaat ia menghentikan makannya, namun kembali meneruskan begitu matanya menangkap seorang pemuda yang tak kalah cantik darinya telah duduk di sebelahnya.

“Hmm?” balas Heechul di sela kunyahannya.

“Ada acara nanti? Aku ingin mengajakmu ke rumah Sungmin,” ujarnya tanpa basa-basi. Leeteuk –pemuda tadi memainkan jarinya bermaksud memanggil pelayan, “Seperti biasa,” pelayan itu mengangguk mengetahui pesanannya.

“Untuk apa? Aku malas kalau yang tidak penting,” jawab Heechul datar. Ia menaruh sumpit di atas piringnya yang telah bersih dari makanan dan mengambil tisu yang tersedia untuk mengelap mulutnya yang berminyak.

“Sungmin memintaku untuk mengajarinya Fisika, kalau aku sendiri rasanya tidak jago. Jadi aku memintamu untuk mengajarinya juga, mau ya~” pintanya. Ia mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas, berharap pemuda yang dikenal dengan ‘Diva’ di depannya ini mau mengabulkan permintaannya.

Heechul mendengus, “Ck! Aku malas mengajari anak-anak, kau bawa saja Jaejoong, pasti dia mau. Lagi pula dia suka anak manis seperti Sungmin,” tolak Heechul. Ia mengaduk jus melon dihadapannya dengan sedotan.

“Ayolah, Heechul_ Oh, terima kasih,” ia mengangguk kecil pada pelayan yang mengantarkan makanan untuknya, “Ayolah, Heechul~ Kau kan jenius di Fisika, kau pasti lebih bisa mengajarinya daripada aku,” Leeteuk memohon.

“Apa bedanya aku dengan Jaejoong? Anak itu juga pintar di Fisika kok!” jawab Heechul malas. Ia paling tidak suka untuk mengajari seseorang, walau itu temannya sekalipun.

“Heechul_”

“HYUNG!” omongan Leeteuk terpotong dengan seruan nyaring seseorang dari pintu kantin. Sontak semua orang yang berada di kantin menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pemuda –sepertinya lebih mudah dari Heechul dan Leeteuk mengayunkan tangannya pada dua orang pemuda cantik itu. Dan ia berlari kecil menghampiri mereka.

“Tuh, minta saja padanya, pasti mau,”

“Apa? Apa? Ada apa?” Jaejoong, pemuda yang tadi berseru itu bertanya bingung pada Heechul dan Leeteuk.

Leeteuk mendengus sebentar ke arah Heechul, tapi Heechul hanya pura-pura tidak tahu dan menyeruput habis minumannya.

“Jae, kau mau mengajari Sungmin pelajaran Fisika? Dia memintaku untuk mengajarinya, tapi jika aku sendiri mungkin tidak terlalu mampu. Kau mau?”

“Sungmin?” dahi Jaejoong mengerut, ia berusaha mengingat siapa itu Sungmin, “Oh! Sepupumu yang bergigi kelinci itu ‘kan? Yang manis itu ‘kan?” tanya Jaejoong senang.

“Iya,” jawab Leeteuk singkat.

“Aku mau! Aku mau, hyung!” jawab Jaejoong senang. Ia terkekeh senang saat membayangkan Sungmin dan kemanisannya. Apalagi ia akan bersama Sungmin! Jadi, saat ia mengajari Sungmin, ia bisa mencubiti pipi Sungmin yang gembul itu.

Heechul menarik sudut bibirnya sedikit, membuat senyum samar, “Kubilang juga apa, dia pasti mau. Lagi pula nanti aku ada janji deng_”

“Heechul,” sebuah suara berat membuat Heechul mendongak.

Ia melihat seorang pemuda bertubuh atletis dibalut dengan kaos putih lengan pendek sedang memegang beberapa buku di tangannya dan tersenyum hingga memperlihatkan lekukan dalam di pipinya. Membuat Heechul tersenyum disertai munculnya lekukan di pipinya.

“Siwon …,” gumam Heechul pelan.

“Nanti jadi, ‘kan? Jika aku tidak ada di dekat mobilku, cari saja aku di perpustakaan, ok?” katanya lalu pergi setelah Heechul mengangguk.

Tiga orang pemuda menatap kepergian Siwon dengan pandangan berbeda. Leeteuk dan Jaejoong melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan, namun Heechul dengan perasaan senang.

Begitu sosok Siwon menghilang dari pandangannya, Leeteuk menatap Heechul serius, “Kau masih bermain dengannya?” tiba-tiba suara lembut bak malaikat Leeteuk berganti dengan nada datar sarat akan kekesalan.

“Kalau aku jawab ‘iya’, memang kenapa?” tantang Heechul. Ia menatap Leeteuk malas, Leeteuk masih menatapnya serius bercampur kesal. Sedangkan seorang yang paling muda diantara mereka hanya menatap Heechul dan Leeteuk sendu dan takut.

“Sampai kapan kau akan mempermainkannya?” ucap Leeteuk setelah menghembuskan napas pelan.

“Sampai aku bosan,” jawab Heechul acuh. Ia menumpukan kepalanya dengan tangan di atas meja, matanya menatap Leeteuk dengan pandangan malas. Pasti sebentar lagi ia akan ceramah, batin Heechul.

“Tidak adakah perasaan bersalah padanya saat kau mencampakkannya begitu saja?” tanya Leeteuk sengit. Ia sangat tak suka sikap Heechul ini.

“Tidak,” jawab Heechul santai, “Untuk apa? Aku tidak ada perasaan apa pun padanya. Dan salahnya sendiri kenapa mau bermain denganku,” Heechul menyeringai kecil, membuat Leeteuk menggeleng prihatin –tentunya kepada Siwon.

“Sadarlah, Heechul. Sikapmu yang seperti ini membuat banyak pihak sakit. Siwon pasti akan bernasib sama dengan ‘lawan main’mu sebelum ini, dan ‘dia’ …, hhh …, aku turut prihatin dengan kepercayaannya padamu …,” lanjut Leeteuk sedih.

“Jangan pernah berkata itu adalah kesalahanku, Jungsoo. Kau tahu aku bagaimana, dan aku pun sudah menjalani ini sebelum aku bersamanya. Aku sudah bilang tidak suka sendiri, tapi dengan bodohnya ia pergi. Bukan salahku ‘kan jika aku mencari pelarian?” Heechul menatap Leeteuk tajam. Ia paling tak suka jika dikaitkan perasaannya pada ‘orang itu’. Ia tahu apa yang ia lakukan, dia sudah besar! Tak perlu diingatkan mana baik dan mana buruk. Ini hidupnya, dan hanya dia yang bisa menentukan ia akan melangkah ke mana.

Leeteuk menghela napas kasar. Jika Heechul sudah memanggilnya dengan nama aslinya –Jungsoo, itu berarti Heechul sudah sangat serius dan tidak ingin dibantah. Menjadi teman baik Heechul membuatnya mengerti akan semua tindakan dan sifat Heechul, hanya saja ia tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran pemuda cantik ini.

Heechul membuang muka dari Leeteuk seraya menghembuskan napas. Ia sudah sangat sering dinasehati tentang ini, tapi mau bagaimana lagi? Ini memang sifatnya yang tak akan pernah bisa diubah.

“Aku ada kelas, aku pergi dulu,” dengan mengambil buku yang ia letakkan di atas meja, Heechul melenggang pergi sambil menyandang tas di punggungnya. Menyisakan Jaejoong dan Leeteuk yang menatapnya lesu.

“Aku harap dia cepat berubah,” gumam Leeteuk pelan, tapi masih bisa ditangkap Jaejoong.

Jaejoong tersenyum kecil tanpa melihat Leeteuk, “Sifat Heechul hyung yang itu tidak akan bisa diubah, hyung. Harusnya kita berharap Hankyung hyung cepat pulang …,”

.

_HanChul_

.

“Selamat siang, dengan Exellent Shanghai Hotel. Ada yang bisa kami bantu?”

“Selamat siang, Tuan,”

“Selamat siang, Pak,”

“Siang …,”

Begitu yang terjadi di dalam sebuah gedung bertingkat yang mewah. Suara dering telepon, suara sapaan, dan suara alas kaki yang beradu dengan lantai marmer yang indah juga serasa memenuhi gedung itu. Tapi tetap saja, nyaman yang pertama kali kita rasakan begitu menginjakkan kaki ke gedung tinggi yang sebenarnya adalah salah satu hotel mewah yang terletak di negara yang tak pernah tidur, Korea.

“Aku ingin memesan satu kamar VIP.”

“Baik, atas nama siapa Tuan?”

“Choi Siwon.”

Heechul masih terus menghamburkan pandangannya keseluruh penjuru hotel. Entah mengapa, perasaannya tiba-tiba tenang dan hangat ketika menginjakkan kaki di hotel tersebut. Tanpa ia sadari, sebuah senyuman manis dan tulus yang jarang ia tampakkan, tersungging indah di wajah cantiknya.

“Hee, kau menyukai hotel ini?” Siwon melilitkan tangannya ke pinggang ramping Heechul dan membawanya berjalan ke arah lift setelah menyelesaikan urusan registrasi pemesanan kamar.

“Ya, aku menyukai hotel ini. Suasanannya nyaman. Tapi, mengapa semua yang ada di sini berbau Beijing?”

“Hmm, pemilik tempat ini seorang berkebangsaan China. Seorang pria muda yang sangat sukses. Dia teman masa kecilku.”

“Oh, begitu. Siapa?”

“Nanti akan kuberitahu, ok?” Siwon masih setia melingkarkan tangannya di pinggang Heechul dan mengecup dahinya lembut setelah tersenyum menatap namja cantik itu.

Dan lift itu tertutup, menghilangkan siluet Heechul dan Siwon. Tanpa mereka tahu ada seseorang yang menatap mereka dengan tajam. Lebih tepatnya ke arah Heechul.

‘Sepertinya aku mengenal sosok itu,’

.

.

*Room 407*

Deru napas berlomba di kamar hotel itu. Tampak dua orang pemuda terlentang tanpa busana dengan mengambil napas sebanyak-banyaknya. Mereka sama-sama memejamkan mata menikmati sisa-sisa kenikmatan yang mereka hasilkan setelah penyatuan tadi.

Chu~

Siwon mengecup dahi Heechul yang berkeringat. Siwon mengembangkan senyum gentle-nya begitu Heechul dengan perlahan menampakkan iris cokelat pemuda cantik itu.

“Kau tidak pernah tidak hebat dalam urusan ini, Heechul,” bisiknya seduktif. Dan Heechul membalasnya dengan lenguhan kecil, membuat Siwon terkekeh. Sepertinya impuls sekecil apapun yang diberikan kepada Heechul akan bisa menjadi rangsangan bagi pemuda cantik itu, akibat percintaan mereka mungkin.

“Sepertinya kau kelelahan sekali …,” ucap Siwon khawatir, “Akan kuambilkan minuman,” lanjutnya. Ia meraih boxernya yang terjatuh ke lantai dan memakainya cepat. Segera setelah boxer itu terpasang, ia membuka lemari es dan mengambil dua minuman isotonik untuknya dan Heechul.

“Ini,” tawarnya kepada Heechul yang telah mendudukkan dirinya di atas kasur. Heechul mengambilnya, membuka tutup minuman itu dan meneguknya cepat. Terlihat sekali bahwa ia sangat kelelahan.

Setelah merasa sedikit rileks, Heechul menatap Siwon yang sudah memakai celananya. Tiba-tiba ia teringat dengan janji Siwon sebelum masuk ke kamar hotel ini.

“Wonnie, ceritakan tentang pria pemilik hotel ini. Entah mengapa aku begitu tertarik ingin mengetahuinya. Bagaimana bisa seorang pria muda bisa mengelola hotel semewah ini?” tanyanya.

“Hahaha, dia memang pria yang pintar dan gigih, Hee. Dia pria yang memiliki kemauan yang kuat, namun ia tidak egois. Sebenarnya hotel ini baru diresmikan lho, tapi ramai ‘kan? Karena ia memang tidak ingin berbuat setengah-setengah atau tidak sepenuh hati. Dia akan melakukan apa pun agar orang lain merasa nyaman, bisa dibilang untuk kepuasan pelanggan,” jelas Siwon panjang lebar, ia tersenyum kecil melihat Heechul yang menatapnya tak percaya.

“Oh ya? Berarti dia orang yang sangat hebat!” puji Heechul penuh kekaguman, “Namanya siapa?”

“Hei~ Kau penasaran sekali. Kenapa? Kau tertarik padanya?” goda Siwon.

“Jawab saja, Choi Siwon,” ujar Heechul sambil memutar bola matanya.

“Ok, chagiya-ku ini orang yang suka ngambek dan tidak sabaran, ya!” kekeh Siwon, “Namanya Tan Hangeng,”

Heechul terdiam, ia membelalakan matanya begitu mendengar nama yang teramat tidak asing ditelinganya. Tangannya mengepal dengan kuat, wajahnya tertunduk dengan kaku, dan matanya memanas tanda akan keluarnya air mata namja cantik itu.

“Hee, gwenchana?”

Heechul serasa ditulikan dari apapun, yang bisa ia dengar sekarang hanyalah sebuah nama yang berdegung di kepalanya, ‘Tan Hangeng’. Tubuhnya serasa diputar dan membuatnya mual, kepalanya serasa akan pecah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sungguh ia sangat gugup dan rasanya ingin mati.

Nama itu, adalah nama yang selalu tercetak di hati dan pikiran Heechul. Seseorang yang membuatnya seperti sekarang ini. Bermain dengan lelaki lain dan mengkhianati kepercayaannya. Tan Hangeng, atau yang lebih sering Heechul sebut Hankyung, adalah kekasihnya yang kini berada di China.

“Hee, kau tak apa?” kini Siwon benar-benar bingung sekaligus khawatir melihat orang yang dicintainya bersikap aneh. Heechul seperti orang yang akan masuk neraka saat mendengar nama sahabatnya itu. Tapi kenapa? Ada apa memangnya?

“Hee, kau mendengarku?” Siwon menepuk pipi Heechul pelan dan tak lama kemudian tangannya dijatuhi setitik air dari mata Heechul.

“Ya, kau kenapa?” Siwon mendongakkan wajah Heechul dan melihat mata pemuda cantik ini memerah, begitu juga dengan hidungnya. Tanpa banyak kata, Siwon langsung memenjarakan tubuh Heechul di dekapannya. Membuat tubuh berkeringatnya tambah basah dengan air mata Heechul yang kini telah jatuh dengan deras.

“Ssshhh …, jangan menangis, jangan menangis …,” bisik Siwon sambil membelai rambut Heechul yang agak panjang.

“Kkkh …,” Heechul menangis terisak, diselingi batuk malah. Menumpahkan rasa gugup, takut dan bersalahnya ke dalam air bening yang mengalir dari matanya yang indah.

Tuhan, bohong jika Heechul bilang ia tak peduli dengan Hankyung yang berada di China, sedangkan ia sekarang menuntaskan keegoisannya. Memakai alasan bahwa Hankyung terlalu bodoh karena meninggalkan dirinya di Korea padahal Heechul sangat tidak ingin sendiri dan ia mencari pelampiasan hatinya.

Demi apapun, Heechul sangat mencintai Hankyung. Tapi Heechul juga butuh seseorang di sampingnya untuk dipeluk dan memeluknya. Heechul butuh kecupan lembut dan belaian di kepalanya. Ok, katakan ia terlalu seperti seorang gadis remaja yang sedang dimabuk cinta, tapi bukankah itu yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih? Walau mereka adalah pasangan gay, tapi ia juga butuh itu. Apalagi Heechul adalah seorang uke yang sering kali hasratnya meledak-ledak. Kepergian Hankyung membuat Heechul kedinginan, dan ia perlu mencari kehangatan.

Jangan salahkan Heechul jika ia bermain dibelakang Hankyung. Karena ini juga kesalahan Hankyung.

Ya, ini juga kesalahan Hankyung.

.

.

“Sudah lebih tenang?” suara berat Siwon membuat Heechul tersentak sedikit, namun tak lama ia mengangguk.

Siwon melepaskan pelukannya dan menunduk menatap Heechul lembut. Ia tersenyum tipis namun mampu membuat lekukan di pipinya. Siwon merapikan rambut Heechul yang berantakan dengan jarinya yang besar, dan jari itu beralih ke pipi Heechul yang panas.

“Jangan menangis lagi, ok? Kau sangat jelek jika menangis seperti tadi,” ejek Siwon, Heechul hanya menampakkan ekspresi tak suka, “Dan aku juga tak ingin melihat kau menangis,” kata Siwon tulus.

Ia kembali membawa tubuh kecil Heechul ke dekapannya. Berbagi kehangatan dan perasaan tulus kasih, walau ia sendiri tahu Heechul tidak akan pernah mau merasakannya.

Mendapatkan kehangatan seperti ini, tak pelak membuat Heechul juga nyaman. Ia membawa lengannya meliliti pinggang berotot Siwon dan menyenderkan wajahnya ke perut Siwon.

Kehangatan seperti ini yang ia inginkan.

.

.

Tuut_

Cklek

‘Halo?’

“Halo, gege!” seru seorang pemuda bertubuh tinggi menjulang dengan surai merah menyala.

‘Hn? Kenapa?’ suara diseberang sana bertanya malas.

“Ya! Kau ini kenapa begitu malas mendengar suraku?” pemuda bertubuh tinggi itu bertanya kesal.

‘Hehehe …,’ suara kekehan memenuhi pendengaran.

Di seberang sana, seorang pria berwajah oriental terkekeh geli dengan penuturan adiknya itu, pasti sekarang adiknya yang berambut merah itu sedang kesal setengah mati.

“Maaf. Sekarang aku sedang malas. Memangnya ada apa kau menelepon?” ia memainkan pena dengan tangannya yang tidak memegang handphone, dia juga menaikkan kakinya ke atas meja kayu dan menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi yang ia duduki.

‘Emm …, Han-ge, aku sepertinya melihat seseorang yang kau kenal di hotel kita,‘ pria yang dipanggil ‘Han-ge’ ini bisa mendengar keraguan dari penelepon.

“Hmm?” ia mengerutkan dahinya tanda bingung, “Memangnya kenapa? Di Korea aku mempunyai banyak kenalan, dan kebanyakan sudah kau kenal. Mungkin saja itu salah satu dari mereka. Memangnya ada apa?” tampaknya ini penting, tambahnya dalam hati.

“I-itu …, aku melihat seseorang yang sangat kau kenal, Hangeng-ge …,” adik dari pria tersebut memejamkan matanya kuat, takut dan bingung, apakah harus mengatakannya atau tidak.

‘Heh? Memangnya siapa?’ tanya Hangeng. Mau tak mau, ia ikut penasaran dengan orang yang adiknya ini lihat.

‘Itu …, orang itu seperti orang yang kau letakkan fotonya di meja kerjamu …,’

DEG

“A-apa?” Hangeng menegakkan duduknya, seketika ia menatap ke arah frame foto yang menampilkan seorang pemuda berwajah cantik yang sedang memeletkan lidahnya ke arah kamera. Pemuda yang begitu cantik hingga bisa melebihi kecantikan wanita.

‘I-iya … . Aku melihatnya check in di hotel kita,’

Hangeng mulai gelisah, tapi ia putuskan untuk berpikir positif, “M-mungkin saja dia ada perlu di hotel kita, Mi,”

‘Tapi untuk apa? Dan dia tidak sendiri, ge. Dia bersama seorang laki-laki, mereka tamp_’

_tuut …

Belum sempat adiknya selesai menyelesaikan penjelasan, Hangeng telah memutuskan sambungan telepon sepihak.

Hangeng kembali merebahkan punggungnya di kursi. Ia melonggarkan dari serta melepas jas yang membungkus tubuhnya. Dengan tangan kanan yang ditumpukan di pegangan kursi, jemarinya memijat pangkal hidung yang serasa berdenyut-denyut.

Kim Heechul. Kekasihnya yang sudah hampir dua tahun ini ia tinggalkan di Korea. Seseorang yang sudah lama menawan hatinya. Dan kini ia tinggalkan sendiri di Korea.

Masih hangat dalam benak Hangeng, bagaimana kata-kata yang keluar dari belahan bibir merah menggoda milik kekasihnya. Walau itu sudah hampir dua tahun lamanya, namun tetap, kata-kata yang seolah ancaman itu ia ingat selalu.

Heechul yang saat itu menolak mati-matian kepergian Hangeng ke China hanya bisa menangis terisak. Wajahnya sudah merah dan basah akibat rasa sakit yang terasa dalam hatinya dan juga air mata yang terus mengalir. Ia menolak untuk mendengar apa pun jenis bujuk-rayu Hangeng padanya. Hingga saat Hangeng harus benar-benar pergi ke China untuk mengurus perusahaan ayahnya yang telah wafat, Heechul mengajukan ultimatum.

‘Kau tahu aku seorang yang tidak bisa sendirian, ‘kan? Aku butuh seseorang yang nantinya berada di sisiku. Jika kau pergi, dan itu artinya tidak ada yang berada di sisiku lagi, jangan terkejut jika aku akan bermain di belakangmu,’

‘Tapi, Heenim …,’

‘Apa? Kau tidak ingin aku melakukan hal itu? Kalau begitu jangan pergi!’

‘Heenim, mengertilah …,’

‘Kalau kau pergi, saat kau kembali jangan pernah memarahiku jika kau melihatku dengan orang lain,’

‘Tidak. Kau tidak akan seperti itu, Heenim,’

‘Dari mana kau tahu?’

‘Aku percaya padamu, Heenim,’

Hangeng percaya pada Heechul yang sangat mencintainya, karena –bukannya mengada-ada, tapi Heechul memang tidak bisa berpaling dari Hangeng. Begitupun sebaliknya. Tapi yang membuat Hangeng tak percaya adalah Heechul yang membuktikan ucapannya saat itu.

Jika ia meninggalkan Heechul selama hampir dua tahun ini, hanya berkomunikasi lewat email dan telepon, sudah berapa kali Heechul_ Heechul_

Oh, Tuhan! Membayangkannya saja Hangeng tak sanggup!

Hangeng membungkuk dalam duduknya. Menumpukan kedua tangannya ke paha dan menyembunyikan kepala. Menutup mata rapat-rapat dan mengambil napas kasar.

“Hhh …, Heenim …,”

Hangeng berdiri dan mengambil handphonenya yang tergeletak di meja. Dengan cepat ia menekan tombol-tombol di sana untuk menelepon seseorang.

“Halo? Aku ingin kau pergi ke Korea sekarang, ada yang harus kalian lakukan …,”

.

_HanChul

.

_tbc_

###

Buatan saya dengan my chagi, Fiqa! \^0^/
Akhirnya publish juga XD

.

Thanks for reading this fanfict ^^
and visit my wordpress :  jiaithiei1315 . wordpress . com

.

July, 2012

Park Minnie

Advertisements

2 responses »

  1. _Verzeihen says:

    Satu kata untuk Heechul. Egois.
    Cinta tidak mengenal jarak dan seharusnya dia tidak mempermasalahkan hal itu.
    Kecuali kalau memang Hankyung berselingkuh di Cina dan ada kbar tentang dia melakukan hubungan dengan orang lain.
    Rasanya Heechul terlalu egois di sini, tapi tampak seperti sikapnya sih #jduar
    Kasihan sama Hankyung.
    Menanti pertemuan mereka.
    Keep writing 😀
    Btw, yg telepon Hangeng itu Henry bkan? #eh

  2. Fifian says:

    ff ini uda prnh dipost di ffn ya??dtggu chap 2 nya yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s