Title: Winter Soul

Author: eL-ch4n

Couple: Sibum (Siwon x Kibum)

Rated: T-R

Warn: Boys Love! DON’T LIKE DON’T READ!

Ost: Blue – Bigbang

Bittersweet – Super Junior

Don’t Say Goodbye – TVXQ

Summary: Musim dingin tahun lalu, keduanya berpisah. Pada musim dingin tahun ini, keduanya kembali dipertemukan. Cinta sejati yang tak mengenal waktu, status, dan jenis kelamin. Akhirnya mereka bisa bersatu dalam damai.

.

.

”Kau serius, Wonnie?”

”…”

”Sepertinya memang tak ada pilihan lagi bagi kita, ya?”

”Bummie.”

”Aku mengerti, buatlah aku menjadi milikmu. ”

”Bummie.”

”Biarkan tubuh ini mengingat dirimu, biarkan diri ini mengetahui bahwa ini bukanlah mimpi.”

”Kau serius?”

”Aku mohon, jika aku tak bisa memilikimu. Setidaknya biarkan malam ini aku merasakanmu. Saranghae.”

.

.

Winter Soul

by eL-ch4n

29.06.2012

.

.

Pagi itu cuaca dingin karena salju yang menumpuk. Entah angin apa yang membuatku memutuskan untuk meraih mantelku dan berjalan keluar dari rumahku yang hangat dan nyaman. Aku berpamitan pada appaku yang sedang membaca buku dan ummaku yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Hanya sepotong roti dan secangkir cokelat hangat yang kusantap sebelum keluar dari rumah. Tentu saja ummaku menanyakan ke mana aku akan pergi dengan cuaca sedingin ini. Aku mengangkat kedua bahuku tanda bahwa aku juga sendiri tidak tahu.

Setelah menutup pintu, aku mengeratkan mantelku karena hawa dingin yang mulai menembus kulitku. Dapat kulihat hembusan nafasku yang berbentuk asap putih menandakan bahwa suhu di pagi itu begitu rendah. Kugunakan kesempatan ini untuk melihat daerah sekitar rumahku. Berhubung cuaca masih tidak mendukung, tidak banyak orang yang terlihat berlalu lalang. Tentu saja, siapa yang mau pergi ke luar saat salju menumpuk pada jam 7 pagi seperti saat ini? Kecuali diriku yang sedang kerasukan dan beberapa yang memang sudah ketagihan dengan olahraga di pagi hari.

Kakiku membawaku melangkah menuju ke arah taman yang masih terlihat begitu sepi. Satu hal atau lebih tepatnya seorang namja dengan paras yang cukup tampan menarik perhatianku. Namja dengan kulit putih, berbadan tegap, wajah tampan, dan raut wajah yang kesepian terlihat sedang duduk di salah satu bangku taman seorang diri. Yang menarik perhatianku bukan penampilannya, tetapi apa yang dia kerjakan saat itu.

Maka sekali lagi, sesuatu seolah menarikku untuk duduk di samping namja yang tengah melipat tangannya seolah menunggu seseorang. Pikiran pertamaku saat melihatnya adalah, ”Apakah dia tidak kedinginan?”

Bayangkan saja, dia hanya mengenakan satu kaos oblong hitam yang mencetak tubuhnya dan celanajeans panjang apalagi kaos itu hanya setengah lengan. Apakah dia tidak kedinginan? Setelah menemukan posisi yang cukup nyaman di samping namja itu, aku mengikuti arah pandangannya dan duduk dalam keheningan.

Pendiam memang sudah sifatku dan rasa hening yang saat ini sedang menerpa kami membuat diriku merasa begitu hangat, sesuatu yang begitu familiar.

”Kau tidak kedinginan?” tanyaku begitu saja. Mendengar kekehan dari dirinya membuatku merutuki diriku sendiri yang bodoh. Kenapa dari sekian banyak pertanyaan, malah itu yang terucap? Yah, memang bersosialisasi bukan sesuatu yang mencerminkan diriku.

”Mian,” ujarnya setelah berhasil menahan tawanya. ”Tapi, rasanya tidak percaya bahwa hal pertama yang ditanyakan padaku adalah itu.”

”Yah, maaf kalau tidak sesuai harapan,” desisku. Rasanya aku menyesal mencoba untuk menyapa dirinya. Seharusnya juga aku tidak usah duduk di sampingnya sedari tadi.

Tawanya terhenti dan dia menatapku dengan perasaan bersalah, mungkin akibat menertawakanku tadi. ”Hei, mian, aku tidak bermak –”

”Gwenchana,” selaku cepat. Ingin rasanya aku berjalan meninggalkan dirinya, tapi entah kenapa saat aku menatap sepasang orbs itu membuat diriku merasa terhanyut. ”Apakah –” Aku terhenti. Mendadak lidahku terasa kelu dan konyol.

”Oke aku tahu ini terkesan klise, tapi apakah,” ujarku sembari menggigit bibir bawahku. Dia masih menatapku, kali ini dengan ekspresi yang melembut. ”Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Oke. Sekarang aku berhasil menanyakannya. Great. Sekarang dia pasti akan menganggapku sebagai salah satu fansyang mengejar dirinya. Namun, memang tak bisa dipungkiri. Perasaan familiar itu seolah menggelitikku saat mataku menangkap sosoknya. Kulihat senyuman terukir di wajahnya. Senyuman yang semakin melebar itu menunjukkan dua lesung pipi yang membuat namja di depanku terlihat manis.

”Ah, mungkin, siapa yang tahu?” jawabnya membuatku sedikit bingung. Pertanyaan retoris. Baik, jika namja ini ingin bermain-main seperti itu, aku tak akan keberatan. ”Apa kau tahu bahwa dulu di tempat ini pernah terjadi sebuah kisah?”

”He?” tanyaku dengan bingung. Kedua alisku terangkat tanda bahwa aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mendadak dirinya menanyakan sebuah hal yang absurd seperti itu?

Dia memasang senyumannya sekali lagi membuatku meneguk ludah melihatnya yang tampak begitu menghanyutkan. ”Ya, sebuah kisah, kisah indah namun menyedihkan, maukah kau mendengarnya?”

Aku tak mengerti apa yang merasuki diriku saat kepalaku mengangguk perlahan, membuat namja itu akhirnya kembali menatap ke arah pandangannya semula. Sejenak keheningan melanda di antara kami. Suhu udara sepertinya semakin menurun terlihat dari tanganku yang mulai kaku, tetapi sesuatu yang hangat mulai menyelimuti hatiku.

Alkisah dahulu kala ada seorang pangeran dari sebuah kerajaan bernama Kim Kibum. Dia kabur dari kerajaannya yang saat itu diserang oleh kerajaan lain. Kibum yang hanya satu-satunya Putra Mahkota dilarikan ke hutan bersama dengan para pengawalnya.”

Kim Kibum sedang berlari begitu cepat hingga dia tidak menyadari bahwa saat itu dia sedang menahan nafasnya. Beberapa pengawal yang kabur bersama dirinya tadi sudah rubuh satu per satu menyisakan dia dengan salah satu pengawal yang tampaknya masih terlampau muda untuk menjaganya. Sebuah panah melesat dan menembus dada sang pengawal yang tersisa meninggalkan Kibum seorang diri. Mata Kibum membesar saat melihat satu orang lagi harus meninggal karena melindungi dirinya. Dengan tenaga yang tersisa, dia mencoba untuk menghindari para pengawal dari kerajaan lain dan berlari ke bagian yang lebih dalam.

Seorang diri, dia mencoba untuk memperkuat inderanya, mengingat apa yang pernah dia pelajari sebelumnya. Tubuhnya memang lebih lemah daripada appa-nya, namun bukan berarti dia tidak bisa berlari untuk mengecoh para pengejarnya. Kibum bernafas lega saat dia sudah tidak merasakan kehadiran dari salah satu musuhnya. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena saat Kibum hendak melanjutkan perjalanannya, kakinya menginjak sebuah jebakan seorang pemburu.

Jebakan yang tajam yang membuat kaki atau badan dari sang mangsa terluka. Kaki kiri Kibum terjebak dengan perangkap tersebut, terlebih luka yang terbentuk karena tajamnya ujung jebakan itu membuat Kibum terpaksa menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak dan memberitahukan tempat persembunyiannya. Begitu sakit sampai akhirnya Kibum merasa dirinya mulai berkunang-kunang. Mungkin juga dikarenakan dia belum beristirahat semenjak tadi dan badannya sudah mulai kelelahan. Apalagi dengan dirinya yang sepertinya mulai kehabisan darah. Apakah ini akhir dari dirinya?

Sebelum dia menutup matanya, samar-samar dia mendengar sebuah suara yang menghampirinya. ”Sepertinya aku menemukan kelinci yang besar, eh?”

.

.

Hal pertama yang dirasakan Kibum saat membuka matanya adalah rasa hangat yang menjalar di tubuhnya. Perlahan dia menggerakkan badannya dengan susah payah karena rasa sakit di kakinya masih ada. Dengan hati-hati dia mendudukkan tubuhnya pada kasur yang saat ini sedang dia tiduri. Ini bukan kamarnya atau istananya, lebih kepada sebuah gubuk tua dengan aura yang begitu nyaman membuat dia merasa teduh. Dia mengamati keadaan sekitarnya. Ruangan itu terbuat dari batu bata dan dicat putih polos, terdapat beberapa perabot rumah tangga yang terbuat dari kayu seperti meja, lemari baju, dan juga kursi.

”Sudah bangun, Snow White?” Sebuah suara membuat Kibum tersentak kaget. Dia segera menutupi badannya dengan selimut mendatangkan kekehan dari suara yang menegurnya tadi. Gerakan itu juga menimbulkan rasa perih karena luka pada kakinya yang belum sepenuhnya sembuh. ”Sssh, gwenchana, aku sudah memberikan obat pada lukamu itu, tapi akan lebih baik kalau kau tidak banyak bergerak,” ujar sang pemilik suara yang adalah seorang namja tampan.

Namja itu memegang sebuah nampan yang di atasnya terdapat roti dan segelas cangkir. Dari aromanya, Kibum menebak bahwa itu adalah sebuah cokelat hangat. Kibum masih menatap curiga ke arah namja itu bahkan setelah namja itu meletakkan nampan berisi sarapan pagi itu ke atas lututnya. ”Makanlah, kau sudah tertidur selama 2 hari, aku yakin kau perlu asupan gizi,” gumam namja itu dengan lembut.

Masih menatap tajam ke arah namja itu, akhirnya Kibum memutuskan untuk bertanya, ”Siapa kau? Kenapa aku ada di sini?”

”Ah untuk itu,” mulai namja itu dengan perlahan. ”Mianhae, ne?”

”Eh?”

”Perangkap itu seharusnya untuk buruanku, tetapi sepertinya malah mengenai dirimu.” Kibum mengangguk akhirnya mengerti bahwa namja yang ada di hadapannya tak lebih dari pemburu yang hidup sendirian di hutan belantara ini. ”Sebenarnya sih kau juga salah, sudah tahu ada jebakan, masih saja melangkah di sana.”

”Mwo?!” Kibum membesarkan matanya karena kesal. Dia yang terkena musibah dan sekarang dia juga ikut disalahkan? Apa-apaan namja itu? ”Dengar ya, namja pemburu yang begitu sok akan segalanya, tidak seharusnya kau menyalahkanku! Siapa yang tahu ada perangkap di sana?! Namanya saja sudah perangkap!”

Di luar dugaan, seruan Kibum tadi mendatangkan gelak tawa dari namja yang sedang berdiri di sampingnya. Namja itu tertawa terbahak-bahak sembari memeluk perutnya karena menahan sakit. Bahkan air mata mulai keluar dari namja itu. Kibum mendengus kesal dan memutuskan untuk melihat ke arah sarapan yang terlihat menggiurkan di matanya.

”Mian..mianhae, ne? Haha. Sudahlah, kau makan saja. Tenang, aku tidak meletakkan racun,” goda namja itu sembari mengedipkan mata yang entah kenapa mendatangkan semburat merah di kedua pipi Kibum. ”Aigo, kalau bukan karena pakaianmu mungkin aku sudah menduga kau itu seorang yeojya.”

”Aku itu namja!” seru Kibum. Dia selalu kesal kalau orang menganggapnya sebagai yeojya. Bukan salahnya mempunyai lekuk tubuh yang tampak seperti yeojya, atau kulitnya yang begitu mulus meski sudah sering terkena sinar mentari. Bukan salahnya juga jika bibirnya terlihat begitu merah menggoda. Bukan keinginannya juga mempunyai wajah yang cantik yang membuat orang salah paham. Semua orang harus tahu kalau Kim Kibum itu adalah seorang NAMJA!

Namja itu mengacak-acak rambut Kibum seolah Kibum seperti anak kecil yang sedang mengambek. Hal ini membuat Kibum semakin kesal dan menatap tajam arah namja itu. Perbuatan yang salah karena hal itu membuat dia bisa melihat namja itu lebih dekat. Bagaimana garis wajah namja itu membentuk sebuah ukiran yang indah. Lesung pipi pada kedua namja itu yang terbentuk saat sebuah senyuman terukir di wajahnya. Kibum meneguk ludah, mencoba untuk mengendalikan dirinya. ”A – aku bukan anak kecil!” serunya. Dia memutar kepalanya untuk menghindari tatapan namja itu.

”Ne, ne, arasso, arasso, kau bukan yeojya, kau juga bukan anak kecil. Jadi bisakah sekarang kau sarapan dan ikut aku untuk bekerja?” Suara namja itu sekarang berubah sedikit lebih tegas dan Kibum menyadari bahwa hal itu bukan pertanda bagus.

Blam.

Akhirnya Kibum mengetahui bahwa namja yang menolongnya bernama Siwon. Butuh waktu beberapa lama bagi mereka untuk bisa akrab. Siwon memang periang, tapi Kibum yang kehilangan kepercayaan terhadap siapapun memilih untuk berhati-hati dalam berperilaku.”

”Kibum, aku pulang!” seru Siwon sembari membuka pintu dan membawa seekor kelinci yang sudah tak bernyawa di tangannya.

Kibum yang berada di dapur dan tengah memanaskan air segera menghampiri Siwon yang baru saja kembali dari perburuan. ”Mwo?! Kenapa kau membawa kelinci itu ke sini?!” Sebuah senyuman lebar terpasang di wajah Siwon. Ini sudah menjadi rutinitasnya setiap dia pulang dari berburu. Kibum yang memiliki hati lembut selalu tak tega melihat binatang yang tak bernyawa yang dibawa pulang oleh Siwon setiap hari. Namja manis itu akan selalu memarahi Siwon karena menunjukkan binatang itu ke dirinya. Dan biasanya akan memerlukan bujukan serta rayuan dari Siwon agar Kibum mau menghabiskan makan malamnya.

Mengetahui bahwa namja yang ada di hadapannya tak akan menjawab dirinya, Kibum hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya dia menyadari ada luka di pergelangan tangan Siwon. Dia segera menarik tangan itu mendatangkan erangan kesakitan dari namja itu. ”Owch!” seru Siwon. Kibum segera menatap Siwon dengan ekspresi sendu.

”Gwenchana?” tanyanya dengan penuh rasa khawatir.

Siwon tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya. ”Gwenchana, sungguh, ini bukan kali pertama aku –”

Belum sempat Siwon menyelesaikan kalimatnya, Kibum sudah menarik namja yang notabenenya lebih besar dari dirinya ke dalam rumah. Siwon hanya bisa pasrah dan meletakkan kelinci yang dipegangnya tadi ke atas meja yang dia lewati. Dia tahu Kibum mempunyai maksud yang baik, tetapi namja itu sendiri tidak bisa membersihkan luka dengan benar, bagaimana dia bisa percaya? Siwon hanya bisa menghela nafas pasrah saat Kibum mendorongnya untuk duduk di atas kursi kayu sementara namja manis itu sedang mencari kain atau sejenisnya untuk membersihkan luka Siwon. ”Kibum a –”

”Ssh, aku sudah mempelajari bagaimana merawat luka dengan benar,” sela Kibum yang berhasil mengumpulkan peralatannya yaitu semangkok air hangat, handuk kering, dan obat alami yang disimpan Siwon di dalam lemari. Siwon hanya bisa terdiam dan mengamati bagaimana Kibum dengan tekunnya membasahi lukanya hingga tak ada kotoran yang menempel. Dia sedikit mengerang karena rasa perih yang menjalar ke tubuhnya. Karena itulah, dia memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Objek yang menjadi pengamatannya adalah namja manis yang tengah membereskan lukanya saat ini. Diamatinya bagaimana ekspresi serius di wajah namja saat membasahi lukanya. Kenapa dia tidak menyadari sejak dulu kalau Kibum begitu cantik? Ah, mungkin indah adalah kata yang lebih tepat. Biar bagaimanapun cantiknya Kibum, seorang namja pasti merasa kesal kalau dikatakan seperti itu bukan? Maka indah adalah kata yang lebih tepat.

Kulit namja itu begitu putih dan bersinar. Dia bisa merasakan bagaimana lembutnya kulit itu saat Kibum memegang tangannya yang terluka. Bibir merah yang sesekali mengerucut karena berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya membuat lembaran merah itu terlihat begitu kissable.

Aish! Tenangkan dirimu Siwon!

”Selesai!” seru Kibum senang melihat hasil karyanya. Dia tersenyum tipis melihat bagaimana kain yang sudah menutupi luka Siwon. Ketika tak mendapat reaksi apapun, namja itu mencoba untuk mendongak sedikit ke atas (karena tadi dia menundukkan kepalanya untuk bisa lebih mudah mengoleskan obat pada luka Siwon). Dilihatnya Siwon tengah memandangnya dengan sebuah tatapan aneh, begitu menghanyutkan.

Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, namun detik berikutnya bibir keduanya saling bertemu. Karena tangan kanan Siwon terluka, dia menggunakan tangan kirinya untuk menekan bagian belakang kepala Kibum. Ciuman itu semakin intens ketika lidah mereka saling bertarung memperebutkan dominasi yang dimenangkan oleh Siwon.

Mereka berdua berdiri tanpa melepaskan ciuman mereka. Kedua tangan Kibum melingkar di pinggang Siwon mendekatkan tubuh keduanya. Gesekan yang tercipta di antara keduanya meningkatkan libido yang selama ini tersembunyi di dalam diri mereka. Suara kecipak lidah saling bertaut tertangkap oleh indera pendengaran mereka. Di dalam pikiran mereka sebuah suara meneriakkan bahwa ini salah, tapi di saat yang sama semuanya ini terasa begitu benar, begitu lengkap.

Detik berikutnya mereka mendapati diri mereka berada di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa memakai sehelai benang pun. Lidah Siwon sudah menjelajahi bagian perut Kibum yang polos, memberikan bercak-bercak merah untuk menghiasi kulit putih nan elok itu. Desahan nikmat melesat keluar dari bibir Kibum yang menjadi pertanda bagi Siwon untuk melanjutkan kembali kegiatannya. Badan Kibum menggeliat karena nikmat yang dia rasakan atas kegiatan Siwon.

”Si…siwon…” panggil Kibum dengan kesusahan.

”Hmm?” jawab Siwon tanpa menghentikan gerakannya.

”Hen…hentikan,” ucap namja manis yang mendesah karena nikmat di bawah tubuh Siwon.

Sesuai dengan aba-aba yang diberikan, Siwon menghentikan gerakannya dan menatap Kibum yang tengah menutup wajah dengan dua tangan. Melihat pemandangan itu membuat Siwon merasa sedikit sakit. Perlahan dia membuka kedua tangan itu menampakkan sosok Kibum yang tengah bergulat dengan apa yang sedang terjadi. Siwon tersenyum tipis dan mendekatkan bibirnya pada kening Kibum, mengecupnya perlahan. ”Sshh…mian, aku akan – ”

”Aku takut,” sela Kibum. ”Aku takut bahwa setelah semua ini terjadi, kita akan berpisah. Aku takut, Wonnie, aku sungguh takut,” bisik Kibum dengan lirih.

Dia takut bahwa Siwon tak lebih dari salah seorang musuh yang akan membuainya dengan kata-kata manis dan kemudian membuangnya begitu saja. Dia takut, sungguh takut. Belum pernah dia merasa seintim ini dengan seseorang, bahkan tidak dengan kedua orang tuanya sekalipun.

Siwon hanya mengangguk dan kemudian tersenyum, mengelus pipi Kibum dengan punggung tangannya. Dia menyentuhkan bibirnya dengan bibir Kibum dengan pelan. Kalau Kibum belum siap, maka dia akan menunggu. ”Ssh, gwenchana. Kita bisa menghentikannya sampai di sini, ne?”

Kibum tak menjawab, namun Siwon bisa mengetahui bahwa namja itu setuju. Dia memeluk tubuh mungil Kibum yang bergetar karena rasa gugup. Dekapan untuk saling menukarkan rasa hangat yang mulai menjalar. Siwon mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Di tengah musim dingin itu, keduanya tak memakai sehelai benang pun, tapi mereka tak merasa kedinginan. Rasa hangat yang terbagi di antara keduanya membuat mereka melupakan segalanya. Kibum bersumpah bahwa dia tak pernah merasakan kehangatan seperti yang dia rasakan pada malam musim dingin itu.

”Tapi, kisah mereka tidaklah seindah keinginan mereka. Satu ketika saat Siwon pergi ke pasar untuk menjual hasil buruannya, dia mendengar kabar tentang Raja Kim atau appa Kibum yang sakit.

Mendengar itu, Siwon akhirnya memutuskan untuk melepaskan Kibum. Karena pada akhirnya dia tahu, bahwa dia tak lebih dari seorang pemburu yang mencintai seorang Pangeran dari kerajaannya.”

Dua namja itu saling menatap satu sama lain. Suhu di luar yang begitu rendah juga tidak membantu rasa dingin yang menghampiri mereka. Namja manis itu memandang dengan sendu. Tak bisa dia percaya apa yang dia dengar adalah sebuah kenyataan. ”Kau serius, Wonnie?” tanya Kibum dengan lirih.

Siwon tak menjawab, hanya menatap kosong pada sosok mungil Kibum yang terlihat begitu rapuh di matanya. Biar bagaimanapun ini sudah menjadi keputusannnya. Raja Kim sedang sakit dan sebagai satu-satunya pewaris takhta kerajaan, Kibum harus menggantikan appa-nya, memerintah negara ini dengan bijak. Sementara dia? Dia tak lebih dari seorang pemburu yang hidup seorang diri karena tak suka dengan keramaian kota yang berlebihan.

”Sepertinya memang tak ada pilihan lagi bagi kita ya?” Kibum tak bisa mempercayai ini. Baru saja dia berhasil membuka hatinya untuk Siwon, baru saja dia ingin mencoba untuk menerima namja itu, Siwon datang dan mengatakan bahwa Kibum harus pergi. Pada akhirnya, ini semua tak lebih dari mimpi indah sesaat.

”Bummie,” panggil Siwon dengan lirih. Dia juga sebenarnya tidak mau. Andai saja dia tidak pergi ke pasar dan mendengar kabar itu, mungkin dia bisa menutup telinga dan berpura-pura tidak tahu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur.

Kibum akhirnya menarik nafas panjang. ”Aku mengerti,” lirihnya. ”Buatlah aku menjadi milikmu,” lanjutnya lagi dengan tegas. Pernyataan terakhir itu membuat kedua mata Siwon membesar.

”Bummie,” gumam Siwon dengan nada tak percaya.

Kibum mengenggam tangan kanan Siwon. ”Biarkan tubuh ini mengingat dirimu, biarkan diri ini mengetahui bahwa ini bukanlah mimpi.” Tangan kanan Siwon diletakannya di atas dada bidangnya sehingga keduanya bisa merasakan debaran jantung yang terdengar begitu keras.

”Kau serius?” tanya Siwon sekali lagi untuk meyakinkan diri keduanya.

Anggukan tegas dari Kibum membuat Siwon hampir melepaskan pengendalian dirinya. ”Aku mohon, jika aku tidak bisa memilikimu. Setidaknya, biarkan malam ini aku merasakanmu.” Siwon melihat namja manis itu tengah menggigit bibir bawahnya, terlihat sedang memikirkan sesuatu. ”Saranghae.”

Ketika satu kata itu terucap, dinding pertahanan keduanya runtuh seketika. Siwon langsung menarik badan Kibum dan kemudian mencumbu namja itu. Dengan lidah yang masih bertautan, keduanya menemukan cara untuk berhasil mendarat di atas ranjang dengan selamat. Tubuh polos saling bergesekkan.

Tidak bisa dipercaya kalau saat itu di luar sedang musim dingin karena di dalam ruangan itu terasa begitu panas. Suhu semakin tinggi saat bibir keduanya kembali bertemu dan bertarung memperebutkan dominasi. Desahan dan rintihan mengiringi setiap gerakan yang dilakukan keduanya. Hingga akhirnya titik puncak kenikmatan dari kegiatan mereka terjadi saat suara lengkingan Kibum terdengar.

Panas dan perih. Itu yang dirasakan Kibum saat Siwon memasuki dirinya, membuat dia merasakan kesakitan dan sekaligus meyakinkan dirinya bahwa ini semua nyata. Tak terasa cairan bening mengalir di mata kedua namja itu. Siwon akhirnya menemukan titik kenikmatan Kibum membuat keduanya merasakan apa itu surga dalam beberapa detik ke depan.

Bahkan ketika Siwon merasa Kibum seharusnya sudah beristirahat, namja itu terus memaksa untuk melakukannya lagi. Karena itu akan menjadi kali yang pertama sekaligus yang terakhir bagi keduanya.

”Kibum kembali pada kerajaannya dan Siwon kembali pada aktivitasnya. Semuanya kembali normal kecuali kepingan hati yang terpecah dari masing-masing pasangan tersebut.

Hingga suatu hari Siwon mendengar kabar yang membuat hidupnya hancur seketika dan menyesali perbuatannya.”

Setahun telah berlalu, tapi bagi Siwon terasa bagaikan 10 tahun. Tak ada Kibum di sampingnya membuat dia merasa kesepian. Seharusnya dia sudah terbiasa hidup seorang diri, tapi entah kenapa semenjak Kibum datang, dia tak bisa menghilangkan sosok itu dari pikirannya. Hidupnya terasa begitu hampa. Dia masih bisa merasakan kehangatan dari namja itu.

”Bummie,” bisiknya lirih. Satu nama yang terungkap dari bibirnya membuat dia merasa sakit. Kenapa dia begitu bodoh? Kenapa dia tidak mempertahankan namja yang dia cintai? Kenapa dia membiarkan namja itu pergi dari tangannya begitu saja?

”Kau bodoh, Choi Siwon, sungguh bodoh.” Dia terus merutuki dirinya. Benar, dia bodoh, bodoh karena melepaskan Kim Kibum. Sekarang namja itu bukan hanya lepas dari genggamannya, tapi pergi untuk selama-lamanya.

Ya, Kim Kibum sudah tiada. Sang Pangeran terbunuh pada hari pernikahannya yang akan menyatukan dua kerajaan, Kim dan Song. Tak ada yang tersisa dari para penghuni istana, semuanya habis tak bersisa terbunuh oleh para rakyat yang memutuskan untuk melakukan kudeta. Siwon yang mendengar mengenai hal itu segera pergi menuju ke istana, namun para rakyat menghentikannya.

Dia ingin melihat sosok Kibum untuk terakhir kalinya, tapi mungkin ini lebih baik. Dia bisa menyimpan sosok Kibum yang lain di dalam kenangannya.

Perlahan, pemandangannya mengabur karena cairan yang menumpuk di ujung kelopak matanya. ”Bummie,” isaknya. ”Saranghae, saranghae,” ujarnya diiringi dengan tangisan.

Tok. Tok.

Suara ketukan di pintu rumahnya membuat Siwon menghentikan tangisannya. Dengan telapak tangannya dia menghapus air matanya. Pipinya masih sedikit basah, tapi rasanya itu sudah bukan masalah lagi. Langkah kakinya terasa begitu berat. Jika saja ada lubang di depannya saat itu, mungkin dia berharap bisa terjun ke dalamnya dan menghilang.

Begitu sampai di depan pintu, Siwon membukanya dengan perlahan. Melihat apa yang ada di hadapannya, kedua matanya membesar karena terkejut.

Tidak mungkin.

Ini semua pasti hanya halusinasi. Di hadapannya tidak mungkin berdiri seorang Kim Kibum yang sedang tersenyum. Kim Kibum seharusnya sudah tiada, jadi siapa namja yang ada di hadapannya ini? Namja yang terlihat begitu mirip sekali dengan Kibum?

”Wonnie?” Suara itu, bahkan suara yang terdengar sama persis dengan suara yang selama ini dia rindukan.

”Ki…Kibum?” tanyanya dengan nada tak percaya. Pasalnya, Kibum seharusnya sudah tiada. Jadi tidak mungkin kalau namja itu berdiri di hadapannya.

”Ne, ini aku,” jawab Kibum dengan tegas. Killer smile-nya terukir di wajah cantik namja itu.

Ingin membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi, Siwon menarik badan mungil Kibum ke dalam dekapannya. Dia dapat merasakan panas tubuh namja itu menyatakan bahwa ini bukan mimpi. ”Bummie, Bummie,” isaknya.

Kibum yang melingkarkan tangannya pada perut Siwon juga meneteskan air matanya.

Musim dingin tahun lalu, keduanya berpisah. Pada musim dingin tahun ini, keduanya kembali dipertemukan. Cinta sejati yang tak mengenal waktu, status, dan jenis kelamin. Akhirnya mereka bisa bersatu dalam damai.

Atau

Ini semua tak lebih dari mimpi yang terasa begitu nyata?

.

.

Ketika namja itu menyelesaikan kisahnya, aku tertegun. Sejenak aku merasa terharu karena akhirnya keduanya bersama, tetapi muncul pertanyaan lain di dalam diriku. Bukankah Kibum seharusnya sudah mati? ”Bagaimana bisa?” tanyaku perlahan.

Namja itu memilih untuk tidak menatapku dan kembali memandang ke arah taman tadi. ”Karena itu bukan kenyataan.”

”Eh?” Setiap kalimat yang dia ucapkan mendatangkan ambigu yang lain. Ada praduga di dalam diriku mengenai apa yang terjadi pada bagian akhir cerita, tapi mungkinkah? ”Apakah pada akhirnya Siwon meninggal?”

Kekehan yang terdengar dari namja itu menguatkan keyakinanku. ”Bisa kau tebak apa yang terjadi pada bagian akhirnya?” tanyanya seolah menantang diriku.

Aku menelan ludahku sebelum kembali membuka mulutku perlahan. ”Siwon meninggal entah karena apa dan Kibum yang dia lihat tak lebih dari sosok yang dia bayangkan saat dia memasuki dunia fana. Benarkah itu?”

Hening dari namja itu menandakan bahwa sebagian besar tebakanku benar. ”Ne, Siwon meninggal. Setelah mendengar kabar tentang Kibum yang tak selamat dari kudeta, namja itu memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri dengan menyayat pergelangan tangan kanannya, tangan yang diobati Kibum waktu itu.”

Pergelangan tangan.

Hal itu membuatku mendadak menyadari adanya sayatan yang terlihat dari pergelangan tangan namja itu. Bukankah itu merupakan bekas bunuh diri? Hentikan. Tidak baik kau memikirkan hal yang tidak-tidak. ”Oh ya, aku belum mengetahui siapa namamu.”

Dia tersenyum, begitu lembut dan menghanyutkan. Baru saja dia hendak mengucapkan namanya, seseorang telah memanggilku. ”Brian!” Aku memutar kepalaku untuk melihat ke sumber suara dan mendapati Andrew, sahabat sekaligus namjachinguku tengah berlari menghampiriku. Aku tahu bahwa aku mungkin tidak normal, namun apa daya, cinta tidak mengenal batasan bukan? Sama seperti kisah Siwon dan Kibum yang baru saja kudengar.

”Sepertinya aku sudah harus pergi,” gumamnya.

Ketika aku memutar kepalaku, sosoknya sudah menghilang bagaikan ditelan angin. Bagaimana bisa seseorang menghilang secepat itu? ”Brian!”

”Ah, Andrew,” ujarku menyahut panggilan Andrew kepadaku. Tiba-tiba aku tersentak kaget. Kenapa aku tidak menyadari hal ini sebelumnya? Alasan kenapa aku merasa namja itu begitu familiar adalah karena namja itu mengeluarkan aura yang sama dengan Andrew. ”Apakah kau melihat namja yang tadi duduk di sampingku?”

Mendengar pertanyaanku, Andrew terlihat begitu kaget. ”He? Namja apa? Aku tadi melihat kau sendirian saja daritadi, makanya aku menghampirimu.”

”Tidak mungkin,” gumamku tak percaya. Aku kembali menatap ke arah tempat yang diduduki namja tadi dan tak menemukan sosoknya ke manapun.

”Apa mungkin kau hanya bermimpi di pagi hari?” canda Andrew yang membuatku memajukan bibirku karena cemburut.

”Aish, Brianku memang sangat imut kalau begini,” godanya sembari mencubit pipiku.

Apakah semuanya hanya mimpi? Tapi, semuanya terasa begitu nyata, kisah itu, semuanya. ”Andrew,” bisikku.

”Ne?”

”Apa kau tahu bahwa dulu di tempat ini pernah terjadi sebuah kisah?”

”Aku pikir aku menemukanmu, Bummie, tapi ternyata itu hanyalah sebagian dari dirimu. Tampaknya, perjalananku masih panjang.”

Sosok namja yang duduk di kursi tadi menatap sendu ke arah Andrew dan Brian yang terlihat begitu akrab. Hatinya terasa sakit, namun dia tahu bahwa ini pertanda bahwa sebentar lagi dia bisa menemukannya, menemukan kepingan hatinya yang satu lagi, Kim Kibum.

”Aku akan menemukanmu, Bummie, tunggulah aku,” bisiknya. Ucapannya tertiup angin seolah berharap angin dapat membawakan pesannya pada orang yang dituju.

Dia memegang sepasang cincin yang bertuliskan.

Choi Siwon & Choi Kibum.

.

.

”Winter Soul”

The End

.

.

FF ini sudah pernah dipublish di fb untuk diikutsertakan dalam lomba.

Dan saya ingin membagi biar semakin banyak yang membaca ^^

Seperti biasa, endingnya saya serahkan pada chingudeul. Entah Siwon adalah roh yang tak bisa reinkarnasi sempurna. Atau apapun. Saya serahkan semuanya pada anda ^^

PS: Andrew is Siwon’s english name

Brian is Kibum’s english name

Got what I mean? 😉

Luph,

_Verzeihen

Advertisements

About _Verzeihen

@scionavarielle lfc • bvb • barca | vip • cassie | mad in madhatter http://mylabyrinth.flavors.me/

4 responses »

  1. cloudkimmy says:

    wah.. baca bagian akhirnya pas siwon menceritakan akhir kisah Sibum jadi ingat tokoh di drama yang saya lupa namanya hehe.
    gk mirip sih, cma kedua tokoh itu sama2 roh..

    saya byk berasumsi baca FFmu eL..
    mulai dari kibum yang awalnya saya kira hilang ingatan sampai saya kira siwon itu seseorang dimasa lalu yang bereinkarnasi tapi dgn ingatan yg masih melekat =_=” #apadeh..

    ya.. daebbak..
    keep writing..

  2. nami asuma says:

    sedih bngt waktu th diakhir crita Siwon gak ktmu ma Kibum..trnyata itu orang lain..hiks.hiks
    Tp terharu bngt th Siwon ampe bunuh diri nyusulin Kibum..apalagi ampe trs nyariin Kibum d khidupan brikutny…it’s so sweet..
    Blehkah nami berasumsi ‘Brian dan Andrew ‘ it adlah Kibum dan Siwon..??
    Duh..pinginnya mereka itu bs bersatu…
    Semangat buat Siwon..jngn menyerah mencari blahan jiwa (Kibum)
    Ff-ny eL sllu bs bikin nami tersentuh..
    Semangat trs ya eL..
    Salam Nami

    • _Verzeihen says:

      Ne..seandainya aku jg punya namjachingu kyk gitu #ngarep.com
      BOleh XDD kan itu asumsi nami #eaa
      bersatu kok..mereka bersatu dalam artian tertentu..hehe
      Ne..
      makasih ya >w<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s